
Content and Trigger Warning ❗️ angst , toxic and dysfunctional household , abusive parents , wounds , selfless , child abuse , physical and mentally abuse .
Read with your own risk!
Rumah itu selalu terlihat seperti tempat yang utuh.
Bukan sekadar rapi, tapi seperti sesuatu yang sengaja dijaga agar tidak pernah retak. Setiap pagi, jendelanya dibuka lebar. Cahaya masuk tanpa dihalangi. Suara peralatan makan terdengar teratur dari dapur, dan langkah kaki di lantai selalu ringan, seolah tidak ada satu pun yang ingin meninggalkan jejak. Aroma masakan selalu datang lebih dulu daripada suara panggilan.
Hangat, lembut, seperti pelukan yang tidak terlihat. Di meja makan, piring-piring tersusun dengan jarak yang sama, gelas diisi setengah penuh, tidak pernah kurang, tidak pernah berlebih.
‘Ibu’ akan tersenyum dari balik uap teh yang masih panas. “Sudah bangun semua?” “Sudah!” jawab Nakula cepat, duduk dengan semangat yang hampir selalu sama setiap pagi. “Iya,” Sadewa menyusul, suaranya tenang, seirama dengan suasana yang tidak pernah berubah.
‘Ayah’ melipat koran dengan rapi, meletakkannya di samping piring, lalu mengangguk kecil. “Bagus.”
Percakapan mereka tidak pernah terlalu ramai. Tapi juga tidak pernah terasa kosong. Selalu cukup, cukup untuk terdengar seperti keluarga yang saling memahami tanpa perlu banyak kata. Di ruang tamu, foto-foto keluarga berjajar di dinding. Senyum mereka dibingkai dengan sempurna, tertangkap di momen-momen yang tampak tulus. Liburan, ulang tahun, hari-hari biasa yang dibuat terlihat istimewa.
Tidak ada yang tampak salah di sana.
Tidak ada yang tampak kurang.
Bahkan suara tawa pun selalu datang di waktu yang tepat, tidak pernah terlalu keras, tidak pernah terlalu lama. Seperti sesuatu yang sudah tahu kapan harus muncul, dan kapan harus menghilang.
Rumah itu… hangat.
Hangat dengan cara yang mudah dipercaya. Hangat dengan cara yang membuat siapa pun yang melihatnya dari luar merasa sedikit iri—karena semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Sebuah keluarga yang utuh. Sebuah rumah yang penuh cinta. Sebuah tempat pulang yang seharusnya tidak menyimpan apa pun selain kebahagiaan.
“Enak ya jadi kalian. Keluarganya hangat.” Terlalu banyak orang yang kerap mengatakan hal tersebut. Nakula selalu mengangguk, tersenyum cerah seperti biasanya.
“Iya. Seru banget di rumah.”
Dan Sadewa—
ia hanya diam di sampingnya, dengan senyum yang sudah terlalu sering ia pakai sampai terasa seperti bagian dari wajahnya sendiri.
• • •