
Content and Trigger Warning ❗️ angst , hurt no comfort, Major Death Character (MCD) , selfless .
Read with your own risk!
Di hari-hari itu, dunia seperti menahan napasnya sendiri. Waktu berjalan tidak dengan langkah yang biasa—ia melambat, melunak, seolah ada sesuatu yang ingin dipertahankan lebih lama dari seharusnya. Jumantara terbentang dalam warna lazuardi yang nyaris tanpa cela, dan cahaya arunika jatuh dengan lembut di permukaan bumi, tidak menyilaukan, tidak menyakitkan. Bahkan ketika hari beringsut menuju swastamita, segalanya tetap terasa lindap, seperti semesta sengaja meredam segala riuh agar tidak mengusik sesuatu yang rapuh.
Langit tidak pernah benar-benar mendung. Angin tidak pernah terlalu kencang. Dersik yang lewat hanya sebatas sentuhan, halus dan tidak memaksa. Bahkan suara bena di pantai pun seperti tahu diri—tidak memecah terlalu keras, hanya datang dan pergi dengan ritme yang tenang, seolah tidak ingin mengejutkan siapa pun yang sedang berusaha bertahan dengan napasnya sendiri.
Nakula duduk di atas pasir, kedua tangannya menopang tubuh yang sejak dulu tak pernah benar-benar bersahabat dengan kekuatan. Bahunya sedikit terangkat setiap kali ia menarik napas—pendek, terputus, tidak pernah utuh. Namun kali ini ia tertawa, ringan, seperti sesuatu yang akhirnya diizinkan bebas meski hanya sebentar.
Di sampingnya, Sadewa duduk dalam jarak yang telah ia hafal sejak lama. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, cukup untuk menangkap bila tubuh itu goyah, cukup untuk selalu ada sebelum runtuh benar-benar terjadi.
“Aku capek,” gumam Nakula, suaranya pelan, tapi senyumnya tetap tinggal.
Sadewa melirik, sudut bibirnya ikut terangkat dalam lengkung yang sederhana namun hangat.
“Istirahat Nakula. Jangan dipaksa.”
“Dari tadi juga istirahat,” Nakula mendengus pelan, seolah lelah itu bukan sesuatu yang asing.
Tidak ada yang menegur. Tidak ada yang melarang. Tidak ada suara panik yang biasanya datang terlalu cepat hanya karena ia duduk terlalu lama di luar.
Hanya Sadewa.
Selalu Sadewa.
Hari Pertama, berakhir hingga swastamita benar-benar menutup hari. Cahaya meredup, langit berubah warna, dan dunia terasa semakin tenang. Nakula sempat melantunkan kidung pendek, hanya sebait, nyaris seperti bisikan—sebelum napasnya mulai tersendat. Seperti refleks yang telah berakar, Sadewa langsung bergerak, tangannya menyentuh punggung Nakula, menepuk perlahan, ritmenya sabar, tenang.
“Udah,” bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya dalam sekian lama, Nakula tidak membantah. Ia tidak memaksa satu bait lagi, tidak mencoba membuktikan apa pun. Ia hanya diam, membiarkan dirinya berhenti.
Hari kedua, membawa mereka ke sudut kota yang kecil, ke sebuah photobooth dengan lampu yang terlalu terang dan latar yang terlalu ramai. Cahaya itu jatuh tanpa ampun pada wajah Nakula, menegaskan pucat yang tak bisa ia sembunyikan, namun juga membuat matanya tampak baswara—hidup dalam cara yang tak biasa.
Ia tertawa saat melihat hasil cetakan pertama.